“Saya pernah masuk bui di Cirebon, nginap gratis di Kepolisian Ngupasan Yogya, akibat terseret dunia hitam. Itu kenyataan hidup saya yang tidak dapat dipungkiri. Berkat kesenian, saya dapat hidup normal. Saya berhutang budi pada kesenian sebab saya diberi pelajaran hidup yang berharga oleh seni. Untuk itu saya tidak dapat lepas dari seni, khususnya pantomim. Pantomim membuat saya ada artinya. Simbok saya pun menjadi tenteram dengan kehidupan saya yang menekuni kesenian. Tidak seperti dulu, terseret dunia jahat”. (kutipan dari http://jemekmime.blogspot.com/2007/07/jemek-mimer-sejati-supardi.html)
Saat masih tinggal di Yogya dulu saya pernah ketemu pak Jemek Supardi saat berpantomim. Kalau tidak salah di stasiun Tugu. Beliau memang mengkhususkan diri di bidang seni tadi, sampai sekarang juga sepertinya. Dulu Septian Dwi Cahyo, pemain film remaja jaman 80-90 an, pernah juga berpantomim tapi tidak seintens pak Jemek. Mungkin karena seni pantomim tak menghasilkan banyak uang.
saya terkesan pada beliau karena mengakui senilah yang mengentaskan beliau dari dunia hitam.
saya pernah membaca versi lain masalah pindah jalurnya itu. saat muda pak jemek jadi preman di kampungnya. suatu saat dia melihat ada anak berambut gondrong lewat di depannya. karena menurut perasaan beliau orang gondrong adalah sesama preman juga, yg mungkin bisa dia timba ilmunya, maka disapanya anak tadi. "mas mau ke mana ?" "Mau kuliah" kata anak tadi. ternyata anak gondrong itu adalah mahasiswa ASRI (atau ISI kl sekarang). dari situlah pak Jemek mulai tertarik pada seni, yg mengijinkan bekerja atau sekolah dgn rambut tetap gondrong tentunya. Beliau memang tidak sekolah ke ASRI tapi 'sekolah' langsung dgn ikut teater. Setelah malang melintang lama akhirnya karena keterbatasan beliau dalam menghapal naskah jatuh pilihannya ke seni pantomim. Tanpa kata2 tapi pesannya tetap bisa sampai.

saya terkesan pada beliau karena mengakui senilah yang mengentaskan beliau dari dunia hitam.
saya pernah membaca versi lain masalah pindah jalurnya itu. saat muda pak jemek jadi preman di kampungnya. suatu saat dia melihat ada anak berambut gondrong lewat di depannya. karena menurut perasaan beliau orang gondrong adalah sesama preman juga, yg mungkin bisa dia timba ilmunya, maka disapanya anak tadi. "mas mau ke mana ?" "Mau kuliah" kata anak tadi. ternyata anak gondrong itu adalah mahasiswa ASRI (atau ISI kl sekarang). dari situlah pak Jemek mulai tertarik pada seni, yg mengijinkan bekerja atau sekolah dgn rambut tetap gondrong tentunya. Beliau memang tidak sekolah ke ASRI tapi 'sekolah' langsung dgn ikut teater. Setelah malang melintang lama akhirnya karena keterbatasan beliau dalam menghapal naskah jatuh pilihannya ke seni pantomim. Tanpa kata2 tapi pesannya tetap bisa sampai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar