Rabu, 21 Agustus 2013

bonded by blood

 Exodus saat berdiri di tahun 1982 berisi Kirk Hammett dan Gary Holt pada gitar, Paul Baloff sang lead vocals, Jeff Andrews pada bass dan drummer Tom Hunting. rombongan ini sempat mengeluarkan kaset Demo di tahun 1982. karena pada tahun 1983 Kirk Hammett pindah ke Metallica maka di debut album, Bonded by Blood 1985, namanya tak ada

Sayangnya sehabis merekam Bonded by Blood , Paul Baloff keluar dan digantikan Steve "Zetro" Souza, lead vocalis grup Legacy (pra Testament). album Bonded by Blood dianggap para kritisi sebagai album thrash metal klasik. album2 Exodus berikut memang masih hgarang tapi tidak banyak memberikan sumbangan baru di kancah musik thrash metal. sampai saat ini Exodus masih eksis, walau cuma meninggalkan Gary Holt sebagai anggota awal yg tersisa. paul baloff sendiri sdh meninggal tahun 2002 karena serangan stroke.

Kirk Hammet mengomentari kawan lawanya, Paul Baloff, sebagai berikut,
"he didn't have the best voice in the world but he had tons of charisma, was the funniest guy in the world, he knew the music and he knew what we were shooting for"

istilah Bonded by Blood sendiri berawal dari saat suatu malam para pendiri Exodus (termasuk Kirk) ngumpul sambil minum vodka di mobil Paul sambil mendengarkan Venom dan Mercyful Fate. entah karena mabuk berat atau apa shg mereka saat itu merasa terkesan dgn pencapaian Exodus shg perlu diabadikan. entah siapa yg mengeluarkan pisau kemudian satu persatu menorehkannya ke tangan (Kirk masih bisa memperlihatkan bekasnya, ada di video). Mereka lalu mencampur darah mereka bersama dan merasa bersatu dalam darah (" we were all bonded by blood")

Dark Ages

 keberadaan genre musik alternative setidaknya membuka pandangan dunia bahwa memainkan musik rock tak harus rumit dan jagoan nggitar.
     saat demam musik alternative membuat kaset solo gitar macam Steve Vai atau Joe Satriani jadi sesuatu yang aneh. gitaris Blind Melon pernah mengejek murid2 Guitar Institute of Technology karena dianggap terlalu njlimet dalam mengulik gitar.
     Selain itu cara menyanyipun tidak perlu menjerit-jerit (yang menyebabkan puluhan grup hair metal & power metal gulung tikar) atau tak perlu seindah suara Paul Rodgers. anda bisa mendengarkan cara menyanyi Jarvis Cocker dari Pulp atau juga grup the Breeders.
wl demikian gara2 aliran itu saya malah bisa mulai mendengarkan the Doors yg pada awalnya saya anggap aneh musiknya. Saya juga jadi bisa menikmati aliran punk karena beberapa grup alternative berkiblat pada kesederhanaan musik punk.
     untungnya beberapa grup tidak seratus persen menyederhanakan musik mereka,Soundgarden adalah contohnya. Gitaris Kim Thayil selalu mengganti seteman gitarnya tiap lagu dan Chris Cornell sampai sekarang diakui sbg vokalis dgn cara menyanyi yg unik.

17 april 2010


 

something to believe in

kota tempat saya ngantor sekarang sebenarnya cukup sepi, hanya anehnya makanan lumayan mahal di sana. berbeda di tempat domisili saya di Magetan yang untuk makan  Rp 2500 saja masih bisa. tadi sore habis magrib saat makan di sebuah warung tenda, pemiliknya bilang ke pembeli kalau pecel tanpa lauk aja tak boleh Rp 2000. ada seorang suruhan yg ternyata cuma dititipi Rp 40.000 utk 15 bungkus nasi liwet jadi bengong. Sepertinya sang majikan tak pernah jajan ke alun2 sebelumnya, walau termasuk orang kaya krn pemilik warung kenal. saya mmg pernah makan nasi liwet + jus jambu di situ juga Rp 8000, entah berapa harga satuannya. Di sisi lain ada  tuna wisama atau pengamen di sekitar situ yg tetap juga bisa jajan, walau mungkin cuma minum atau beli gorengan aja. artinya uang yg mereka cari dgn cepat menguap begitu juga. Di sekitar alun2 ada juga fastfood ayam goreng yg kadang-kadang juga penuh pembeli.

di dekat alun2 ada sebuah pasar, minggu lalu saya sempat melihat ibu tua yang jualan daun jati di malam hari, yg entah bisa langsung laku atau tidak. mmg di sini bungkus daun jati msh banyak dipakai bahkan utk makan nasi pecel. cukup ironis di satu sisi ada anak2 muda membuang uang dengan mudahnya utk  beli jajanan & di sisi lain ada orang yang berusaha untuk bisa dapat uang dari barang dagangan (yg mungkin cuma  setara dgn ayam goreng beberapa potong).

While the poor they eat from hand to mouth
The rich drinkin' from a golden cup
And it just makes me wonder
Why so many lose, and so few win
...
(Poison - Something to believe in)

Selasa, 20 Agustus 2013

Bring the Noise

Ini adalah ttg salah satu buku yang paling berharga bagi saya. Bukan karena harganya tapi dari segi informasi di dalamnya. Memang beberapa info sdh tidak up to date, maklum saya dapat sekitar tahun 1993.
buku ini oleh-oleh ibu saya pas beliau ke Belanda sekitar 1993, salah satu pemberian beliau yg masih awet sampai saat ini
Saat belum bisa terhubung ke internet saya dulu mengandalkan buku ini utk mencari info bila melihat ada kaset solo dari seorang gitaris luar negeri. Isi buku ini memang bukan resensi atau review tapi mengomentari skill gitaris yg diulas. makanya kl sang penulis bilang kl lagu ciptaan artis tadi unik maka saya nyoba cari kasetnya, biasanya bekas.
kadang si penulis mengomentari cukup pedas, walau yg dikritik adalah seorang maestro gitar. contoh yg saya ingat adalah kritiknya terhadap lagu Wasting My Time ciptaan Jimmy Page. utk menunjukkan bahwa lagu itu payah dia cukup nulis : "not only yours Jimmy, not only yours".


Senin, 19 Agustus 2013

the Sound of Silence

“Saya pernah masuk bui di Cirebon, nginap gratis di Kepolisian Ngupasan Yogya, akibat terseret dunia hitam. Itu kenyataan hidup saya yang tidak dapat dipungkiri. Berkat kesenian, saya dapat hidup normal. Saya berhutang budi pada kesenian sebab saya diberi pelajaran hidup yang berharga oleh seni. Untuk itu saya tidak dapat lepas dari seni, khususnya pantomim. Pantomim membuat saya ada artinya. Simbok saya pun menjadi tenteram dengan kehidupan saya yang menekuni kesenian. Tidak seperti dulu, terseret dunia jahat”. (kutipan dari http://jemekmime.blogspot.com/2007/07/jemek-mimer-sejati-supardi.html)

Saat masih tinggal di Yogya dulu saya pernah ketemu pak Jemek Supardi saat berpantomim. Kalau tidak salah di stasiun Tugu. Beliau memang mengkhususkan diri di bidang seni tadi, sampai sekarang juga sepertinya.  Dulu Septian Dwi Cahyo, pemain film remaja jaman 80-90 an, pernah juga berpantomim tapi tidak seintens pak Jemek. Mungkin karena seni pantomim tak menghasilkan banyak uang.
saya terkesan pada beliau karena mengakui senilah yang mengentaskan beliau dari dunia hitam.
saya pernah membaca versi lain masalah pindah jalurnya itu. saat muda pak jemek jadi preman di kampungnya. suatu saat dia melihat ada anak berambut gondrong lewat di depannya. karena menurut perasaan beliau orang gondrong adalah sesama preman juga, yg mungkin bisa dia timba ilmunya, maka disapanya anak tadi. "mas mau ke mana ?" "Mau kuliah" kata anak tadi. ternyata anak gondrong itu adalah mahasiswa ASRI (atau ISI kl sekarang). dari situlah pak Jemek mulai tertarik pada seni, yg mengijinkan bekerja atau sekolah dgn rambut tetap gondrong tentunya. Beliau memang tidak sekolah ke ASRI tapi 'sekolah' langsung dgn ikut teater. Setelah malang melintang lama akhirnya karena keterbatasan beliau dalam menghapal naskah jatuh pilihannya ke seni pantomim. Tanpa kata2 tapi pesannya tetap bisa sampai.

12 Januari 2011

Shut Up 'N Play Yer Guitar

     majalah yang paling saya sukai

   Bila ditanya majalah apa yang paling saya sukai maka Guitar World adalah jawaban saya. Dibanding majalah musik lainnya majalah ini memenuhi selera saya terutama dalam hal tata letak, foto, maupun isi wawancara mereka dengan para musisi. 

     Sebelumnya saya pernah membaca sekilas majalah rock/heavy metal Circus atau Guitar Player tapi baru saat membaca Guitar Player edisi Oktober 1993 ini saya langsung kesengsem. Berbeda dengan majalah Metal Edge yang berisi wawancara ttg album baru atau keseharian hidup para musisi, isi GW sangat dominan masalah ilmu bermusik sang musisi terutama dari genre heavy metal. Selain itu di bagian belakang dengan jenis kertas yang lebih kasar diberikan bonus Trading Lick yaitu notasi lagu yang dianggap pantas oleh GW utk diketengahkan, gitar dan bass sekaligus. Ada juga kolom teknik gitar dari musisi yang sedang terkenal atau memang jagoan, saat itu yang mengisi Kirk Hammet, Eddie Van halen dan alm. Dimebag Darell.Guitar World juga mengeluarkan majalah utk mereka yang memang lebih menekuni teknik nggitar dengan nama Guitar School. Saat ini mungkin karena krismon di Amerika majalah GW jadi kelihatan tipis mungkin krn jenis kertas yg dipakai juga lebih tipis (saya blm cek jmlh halamannya). Saya masih bersyukur belum ada Guitar World yang diterbitkan khusus di Indonesia seperti yg telah dilakukan majalah Rolling Stones.

      Majalah ini juga pernah mengajak memboikot penjualan album G n' R -Spaghetti Incident? karena ada satu lagu yg tdk dicetak di covernya, Look at Your Game, Girl, yang merupakan ciptaan Charles Manson.

      

      

Sabtu, 17 Agustus 2013

Cornerstone

kaset kompilasi the complete of rock adalah salah satu kaset yang mengenalkan saya ke beberapa grup yang pada saat itu (1986) belum saya kenal. kaset ini kl tak salah berseri sampai 3, cuma saya tidak melanjutkan beli kaset2 berikutnya karena isinya juga tak menarik saya  kala itu. mungkin bila sekarang saya menemukan juga akan saya beli.
walau tak semua lagu mencerminkan bagaimana warna musik grup itu, contohnya orang mendengar Mustapha tak bisa langsung mengasosiasikan dgn Queen, namun setidaknya saya jadi tahu beberapa grup yg di tampilkan di sini layak utk saya simak. Walau juga tak cocok sebenarnya mencampurkan grup rock dgn hard rock dlm 1 kompilasi. Maklumlah saat itu istilah heavy metal belum banyak digunakan oleh pabrik rekaman.
Quiet Riot, Asia, dan Twisted Sister adalah beberapa grup yang saya ikuti perkembangannya bermula dari kaset ini.

sampulnya memakai gambar grup Judas Priest dgn rambut Rob Hallford yg masih agak panjang, pilihan yg tepat karena Rob Hallfordt di dunia permetalan internasional dapat sebutan Metal Gods

urutannya adalah sebagai berikut:
(Side A )1.Finding My Way -Rush 2. Locked in-Judas Priest 3.Black Out-Scorpions 4. Burn-Deep Purple 5. Who Made who-AC/DC 6. I was Made for Loving You-Kiss 7. Cum On Feel the Noize - Quiet Riot 8. Paranoid-Black Sabbath 9. We're not Gonna Take it - Twisted Sister 10. Bitch- Rolling Stones 11. Jump- Van Halen 

(Side B) 1.Travelin' Band-CCR 2. Back in the USSR-the Beatles 3.Rockin' All Over the World - Status Quo 4. Authority Song-John Cougar 5. Invisible Touch-Genesis 6. Mustapha-Queen 7. Owner of a Lonely Heart-Yes 8. Mr. Roboto - Styx 9. Black Dog - Led Zeppelin 10. Heat of the moment - Asia 11. Eye of the Tiger-Survivor 12. Another brick in the Wall- Pink Floyd

6 April 2010 

A Dramatic Turn Of Events

so many theories, so many prophecies,
what we do need is a change of ideas,
(Bad Religion)

Dream Theater telah membuktikan bahwa tanpa kehadiran Mike Portnoy yang kharismatis (untuk penggemarnya) mereka masih tetap bisa jalan. Setidaknya dengan album baru di tahun ini , A Dramatic Turn Of Events,yang baru diedarkan pertengahan September ini. Terlepas dari baik atau tidaknya album ini menurut kritikus atau penggemar, DT ingin menunjukkan bahwa tidak ada toleransi bagi kehendak pribadi salah satu anggotanya utk menggagalkan skedul yang sudah diprogramkan. bahkan saat Mike Portnoy akan balik lagi pun mereka tolak, malah menggelar audisi yang akhirnya memasukkan Mike Mangini ke dalam perusahaan DT. Sebuah pilihan yang mungkin akan menjauhkan DT dari beberapa penggemar fanatiknya (saya bukan, jadi tak ada masalah dgn masuknya Mike Mangini) namun diperkirakan bakal menguatkan kekompakan di dalam tubuh DT sendiri.

agak mirip dengan itu adalah pilihan Alex Skolnick, gitaris thrash metal legendaris Testament, untuk menekuni musik jazz saat keluar dari grup tadi, dahulu kala tentunya. Saat ini, dengan wawasan tambahan dari eksplorasi jazznya tadi, Alex tetap memperkuat Testament. banyak penggemar awalnya mengecam namun lebih banyak lagi yang memuji karena Alex benar2 total dalam menekuni aliran barunya tadi tanpa kehilangan sentuhan lamanya saat kembali ke Testament.

kebalikan dari Alex Skolnic adalah Jane Wirman dari Children of Bodom. Sebelumnya dia adalah seorang pianis aliran jazz. justru karena background itulah maka dia diterima masuk CoB, bahkan saat masuk rambutnya tdk gondrong sama sekali. hasil dari bergabungnya dia maka CoB pernah dimisalkan sebagai Dream Theater-nya aliran melodic Death Metal.


ada kalanya dalam hidup kita harus mengambil keputusan untuk berubah arah, walau mungkin arah baru itu sangat drastis yang bisa mebuat kita panen kecaman. keinginan rekan2 saya yang bekerja di DJP utk masuk ke Pemda misalnya, banyak yang pro maupun kontra. Sekarang tinggal para pengubah keputusan tadi apakah bisa happy ending macam Alex Skolnic & Jane Wirman atau masih jadi tanda tanya seperti nasib Dream Theater tahun ini. 

9 September 2011

Change of Seasons


ternyata tak hanya di indonesia saja era kolektor cd/kaset mulai meredup. di luar negeri pun banyak yg mulai mengumpulkan file mp3 daripada beli cd/kaset. bila harus beli cari aja kompilasi atau kaset yg dianggap esensial. 
sekitar tahu 90-an penjual kaset seken di selatan pasar Bringharjo, Yogya menjamur. sekarang hanya tinggal satu, maklum tak banyak yg menjual kaset lagi. bagaimana tidak, toko2 kaset gulung tikar menjadi toko pernak-pernik HP atau asesori wanita yang lebih banyak memberi keuntungan. lapak2 mp3 membanjir (utk wilayah yg aparat kepolisian membiarkannya) yg kualitas suaranya sangat jelek atau antara sampul dan isi tak cocok. internet menawarkan download gratis lagu dan sampul serta liriknya sekaligus.jadi, utk apa perlu mengoleksi fisiknya?
untungnya saya bukan termasuk golongan yg itu

-------------------------------------------------
         You see back in the seventies and eighties, and into the nineties too just about, things were very different. Sainsbury's, Tesco, Asda (Wal-mart) etc sold bread and cheese. If you wanted records you went to a record shop or in some places like Woolworths and Boots (yes Boots the Chemist) you went to the Record Department. Okay there were some National chains still like HMV but Virgin was an Independent little place, which was great for imports I seem to remember, and every town had a couple of good privately owned little record shops, some even had massive ones. The majority of these had secondhand sections too where you could dig out all sorts of weird and wonderful stuff that someone else had grown tired of. 
       How many of you reading this (that is of course if anyone is reading this) can remember, like me, wading through the endless racks of secondhand albums in the gloriously named 'Record & Tape Exchange' in Camden and Notting Hill Gate among other places filling in gaps in the beloved collection. It may have been more time consuming but it was much more fun than downloading them from the internet like people do nowadays.
      The other thing is that in those days musicians paid their dues. They made an album every year, they played in countless bands before hitting the big time. Touring up and down the country in a beat up Bedford van. So subsequently you would find albums in the secondhand racks and be surprised by the names of musicians you knew playing in bands you'd never heard of. Because they were so cheap you bought them and thats how you got to build up a proper eclectic collection rather than 50 issues of Now Thats What I Call Music and the three albums your favourite band have released in the last 10 years that a lot of people call a collection these days.
 (Martin Leedham, RYM reviewer)

 15 November 2011 

Rebel Yell

Mother should I run for president
Mother should I trust the government
Mother will they put me in the firing line
 (Pink Floyd - Mother)

Agak sulit memisahkan musik rock (yg kemudian berevolusi menjadi Heavy Metal) dengan semangat pemberontakan. Bahkan yang tampak tak berbahaya semacam Simon & Garfunkel pun ada beberapa lagunyayang berisi kritik pada masyarakat (coba simak lagu Sound of Silence). Pink Floyd yang dianggap sebagai salah satu sesepuh progresif rock, di dalam balutan musiknya yang menghanyutkan & mengajak tidur (sangking panjangnya) terselip semangat memberontak kepada kemapanan yang dibentuk oleh penguasa atau masyarakat pasif pada umumnya.

pada dasarnya orang mmg lebih mudah untuk mengungkapkan perasaan dengan marah2 daripada harus tetap
diam membisu. Kenyataan yg demikian itu kadang2 membuat industri musik mulai melirik momen utk mengeruk keuntungan dari kemarahan para muda ini. Beberapa artis baru yang musiknya dianggap mampu dijual pun dibiayai
untuk membuat album yg kemudian dipromosikan dengan gencar. hasilnya seseorang akan diasosiasikan sebagai pemberontak cukup dengan memakai t shirt yg bertuliskan artis tadi atau sekedar nonton konser mereka. Campur tangan komersil ini lebih sering merugikan  contohnya adalah kala aliran grunge & post punk dianggap membunuh scene heavy metal di awal era 90-an.

pemberontakan melalui musik itu tak pernah padam, mulai generasi Elvis, the Beatles, Rolling Stones, the Doors, Metallica hingga Lamb of God & Behemoth.  Mereka yang masih bisa kompromi dengan pasar maka beat-beat bersemangat yang masih dipertahankan diselingi dengan syair tentang cinta atau kehidupan. Mereka yg merasa lebih idealis terhadap makna pemberontakan memilih berada di jalur indie agar tetap bisa melontarkan kritikan (atau hujatan) pedas terhadap kemapanan di segala aspek kehidupan.

Dear Mother
Dear Father
You've clipped my wings before
I learned to fly
Unspoiled
Unspoken
I've outgrown that fucking lullaby
Same thing I've always heard from you,
“Do as I say, not as I do”

(Metallica - dyers eve)
27 Oktober 2011

Countdown to Extinction

Bagaimanakah kabar kaset barat sekarang? sepengetahuan saya sudah banyak toko kaset yang tutup atau bila ada hanya memajang kaset2 lama. teman2 saya juga sdh banyak yang tak punya kaset palyer (dulu terkenal dgn sebutan tape, walkman, atau mini compo). mungkin ada yg punya dimobilnya, tapi itu saja tinggal beberapa mobil lama yg masih memasang karena sebagian besar  sdh diganti dgn cd/mp3 player.

teknologi digital dimulai saat keluarnya cd (yg sdh mulai kembang kempis juga) disusul dengan MP3 membuat keberadaan kaset dianggap sdh ketinggalan zaman. siapa juga yang mau membeli sesuatu yg mahal namun rawan rusak. selain itu format digital membuat kita mudah utk menyimpan dan menggandakan sesuka hati. padahal jaman dahulu saya mengagumi kaset juga dari desain sampul, lirik lagu dan foto-foto yang ada di bagian dalamnya. Memang sih di dalam CD tetap ada juga yg seperti itu (kecuali edisi karton), tapi dengan harga minimal Rp 75.00 rasanya sayang utk mengumpulkan cd sebanyak mungkin.

 pelan-pelan kaset-kaset mulai dijual secara obral di toko kaset atau bahkan saya sempat mendapatkannya di Alfamart(!) dengan harga lebih murah lagi. sepertinya sekarang sdh menghitung bagaimana spy balik modal aja. walau pun saya menikmati momen ini dengan suka cita, kapan lagi bisa dapat kaset segelan dengan haga murah dari grup yang sdh punya nama, tapi ada sedihnya juga. Banyak album yang oleh kritikus dipuji karena kualitasnya diobral namun tetap tak banyak yang beli. saya kira karena kebanyakan anak muda sekarang tidak banyak pengetahuan tentang musik barat dari berbagai aliran di masa lalu. Saya dapat kaset the Cure, David Bowie, Duran-Duran, Radiohead, Joe Satriani, dan Steve Vai sekedar untuk menyebutkan contoh. saya bahkan mendapat seluruh katalog Korn dari acara obral ini.

Hitungan mundur menuju kepunahan kaset sepertinya sdh mulai berjalan. 
12 Oktober 2010

Shake My Tree

Selama bertahun-tahun menjadi penikmat musik, terutama rock & heavy metal, saya mengalami sendiri beragam corak musik bermunculan silih berganti. Beberapa grup/musisi sempat membuat saya terperanjat & kagum saat pertama kali mendengarkan lagunya terutama karena keunikannya atau keanehannya  (untuk pendengaran saya). Mohon maaf bila Anda yang baru mendalami musik di tahun 90-an hanya mengenali beberapa.
1.Queen
Lagu-lagu Queen sebelum tahun 1980: Bohemian Rhapsody, Bicycle Race, Don't Stop Me Now, Liar, We are the Champions atau We Will Rock You membuat saya yg saat itu sering mendengarkan pop Indonesia dan top 40 lagu-lagu Barat terpesona. Karena lagu-lagu itulah saya kala itu (sekitar tahun 1985) mulai menetapkan Queen sebagai satu-satunya grup yg akan saya dengarkan dgn serius termasuk mengoleksi kaset, poster & beritanya. ah ya, album solo Freddie Mercury berjudul Barcelona bisa disejajarkan dengan album awal Queen menurut saya.
2. Rush
Lagu Rush yang saat itu (sekitar 1985) saya anggap keras adalah Tom Sawyer. kakak saya dan hampir semua teman yang suka musik  kala itu sering memutar lagu ini. Padahal itu era saat Rush mulai kena pengaruh new wave dalam lagu-lagu mereka.  makanya saat saya membeli kaset kompilasi The Complete of Rock dengan lagu Finding My Way di nomor 1 sisi A saya benar-benar terkejut saat mendengar betapa kerasnya musik mereka di debut albumnya. Belakangan saya baru tahu bahwa mereka saat itu terpengaruh Led Zepellin, dan hebatnya musik mereka yang menggelegar itu hanya dilakukan oleh 3 orang pemain saja.
3. Metallica
Lagu Battery adalah lagu pertama di album klasik mereka Master of Puppet. Saat saya mendengar pertama kali (tahun 1987 sepertinya) seakan-akan saya dilemparkan kembali ke masa SD saat teman saya menggebrak-gebrak meja untuk mengiringi mereka menyanyi lagu dangdut. Karena terkejut maka saya tidak melanjutkan mendengarkan kaset yg saat itu pinjaman dari teman saya, tidak tahu kl ada nomor agak kalem Sanatorium di akhir side A. Seiring dengan waktu akhirnya 2 tahun kemudian saya mulai bisa menikmati lagu-lagu Metallica dimulai dari ...and Justice for All, kaset Metallica pertama di era kaset ber-royalty.
4. Riot
album Riot-Thundersteel (1988) saya ketahui dari kaset review di koran lokal  Yogya saat itu. Sayangnya saya hanya baru bisa mencoba mendengarkan di toko kaset (saat itu kaset bisa dicoba tanpa harus dibeli) tanpa sempat membeli karena terkendala masalah keuangan. Saya anggap Thundersteel benar-benar menggoncangkan karena style speed metal yang masih jarang pada saat itu, kecuali Helloween dan Judas Priest yang sudah duluan saya kenal. sekedar info, album Riot sebelumnya adalah hard rock/heavy metal biasa. Untunglah bertahun-tahun kemudian saya berhasil mendapat kaset sekennya dan tetap membuat saya terkesan setiap mendengarnya.
 5. Janis Joplin
saya pertama kali mengetahui nama Janis Joplin dari artikel yg saya baca di majalah Vista awal era 80-an. ceritanya Sylvia Saartje, lady rocker Indonesia masa itu,  mengatakan bahwa idolanya adalah Janis Joplin. Lucunya wartawan Vista malah tak tahu siapa dia, maklum biografi musisi saat itu masih minim. bertahun-tahun kemudian saya baru tahu kl Janis Joplin adalah musisi blues Amerika yang mati muda. Baru di awal era 90-an saya mendapatkan kaset seken the best of Janis Joplin kuno dan menyadari betapa hebat suara Janis. di lagu Cry Baby lengkingan suaranya yg tinggi membuat vokalis-vokalis hair metal saat itu jadi tak ada apa-apanya.
6.the Offsprings
lagu Bad Habit adalah lagu the Offsprings pertama yang saya dengar dan sekaligus berhasil mengejutkan saya. Maklum di acara Billboard Music awards tahun 1994 sang vokalis,Dexter Holland, menyanyi dengan berteriak serta mengumpat tanpa sensor, yang memang merupakan bagian lagu.  maklum saat itu era grunge baru berakhir dan memang tak ada vokalis yang menyanyi sambil berteriak kecuali musisi metal.  ada juga lagu mereka dari album Smash, Come Out & Play, yg sempat mengecoh teman saya saat dipakai utk mengiringi radio perkemahan gara-gara intronya yang minim alat musik namun tiba-tiba menghentak sampai akhir. lagu Smash (bukan SM*SH) belakangan juga dicover oleh grup death metal Finlandia Norther.
7. Steve Morse
Salah satu gitaris tersibuk di dunia ini kaset pertamanya muncul di Indonesia dgn tempelan stiker bulat "terpilih beberapa kali sbg gitaris terbaik majalah Guitar Player". saat saya putar intro lagu pertamanya, User Friendly, saya amat terkesan. Walau memang diawali dengan petikan gitar yang lumayan cepat namun kemudian banyak dimasukkan pengaruh southern music dalam lagu tadi, tidak seperti para pendekar gitar yang saya tahu sebelumnya: Yngwie Malmsteen, Joe Satriani & Steve Vai yg sudah sering saya dengarkan. Saat ini Steve selain bergabung dengan Deep Purple juga ikut proyek Mike Portnoy ex Dream Theater di Flying Colors.
8. DragonForce
sekitar tahun 2000 dan seterusnya dengan adanya wabah aliran nu metal/hip metal kemudian dilanjutkan garage rock (grup yg pakai the  nama depannya) maka grup2 heavy metal lama yang saya kenal tidak nampak di deretan kaset2 yang dipajang di etalase toko. ada juga grup2 heavy metal baru yg tak saya kenal saat itu seperti Angra, Edguy, Rhapsody, Shaman, atau Hammerfall. akhirnya kondisinya sama seperti dulu saat saya kehabisan album2 Queen di tahun 1987 krn sdh punya semua, terjadi moratorium. saya anggap grup2 baru tadi tak ada apa-apanya dengan Helloween (yg sebenarnya juga sdh mulai menurun speed-nya saat itu). Di internet sebenarnya saya lihat banyak grup2 baru cuma tak tahu siapa mereka. Akhirnya tahun 2004 iseng2 saya mencoba cd kopian Dragonforce -Valley of the Damned. Lagu-lagu DragonForce langsung menggoncangkan saya, mengingatkan saya pada masa2 awal
mendengarkan Helloween dulu, cuma yg ini lebih cepat lagi. Ternyata para pengusung power metal modern masih layak untuk didengarkan.
 9. Nightwish
Nightwish saat saya kenal sekitar tahun 2004 adalah sebuah grup heavy metal yang sangat kental warna operanya yang tidak hanya tempelan.  Semua ini terutama karena keahlian sang keyboardis Tuomas Holopainen menulis aransemen lagu campuran metal & klasik kemudian memadukannya dengan suara sopran sang vokalis Tarja Turunen yang memang mahasiswa Sibelius Academy di Kuopio,Finlandia dan the Music University of Karlsruhe. Lagu Sleeping Sun adalah lagu slow favorit saya disamping lagu keras Dead to the World yang memperdengarkan perpaduan suara operatilk Tarja dengan suara metal Marco Hietala.
10. Wuthering Heights
pertengahan tahun 2010 saya baca di cd review internet bahwa Salt, album baru Wuthering Heights sangat pantas jadi album tahun ini. Wuthering Heights saya kira semula  adalah grup dari Brazil. maklum nama grup ini sama dgn lagu milik Pat Benatar yang dicover oleh Angra, power metal kenamaan Brazil. Ternyata mereka berasal dari Denmark,negara yang bukan tempat kebanyakan musisi power metal bermunculan. Dalam album yang begitu variatif dan berkualitas tinggi ini pergantian lagu antara cepat dan lambat di album ini, termasuk diselipkan sedikit musik folk, membuat saya tak bosan mendengarkannya. Ada pula lagu epik 16 menit berjudul Lost At Sea yang diakhiri dengan deburan ombak sayup-sayup. Saya akhirnya menyetujui Salt adalah salah satu album terbaik yang saya dengarkan di tahun 2010.
"Abra-macabra, baby, here we go!"

15 Maret 2012

Jumat, 16 Agustus 2013

heARTworks

saat ini banyak orang yg ingin jadi artis (bukan pekerja seni tapi "artis"). Sebenarnya tak ada larangan, apalagi kl ingin jadi artis tadi utk bisa dapat uang banyak. sayangnya godaan uang membuat para artis baru cuma sekedar numpang lewat. memanfaatkan kesempatan selama "seterikaan masih panas". terutama utk mereka yg dari awal mmg tak punya dasar seni (dan sekolah mungkin) semboyannya adalah "All I wanna do is have a little fun before I die" seperti di lagu Sheryl Crowe.
Di sisi lain banyak orang tua yg masih berat mengijinkan anaknya jadi artis, terutama bila sang anak pintar dan seni yg dia tekuni dianggap di lahan "kering". siapa yg bakal mengira mbak Soimah bisa tampil di jakarta dgn logat medok Jawa serta background sinden bukan penyanyi pop? Siapa yg akan mengira insinyur sehebat Brian May akan sukses jadi gitaris band kecil di tengah belantara grup semacam Led Zeppelin, Deep purple atau Beatles kala itu?
Tak semua orang harus jadi akuntan, notaris, dokter & profesi2 mapan lain. semua keahlian yg ditekuni akan memberi hasil, walau tak instan,  di saatnya nanti. tentu saja dgn dibarengi banyak belajar dari berbagai pihak.

sebuah catatan utk mbak evi, salah satu teman saya, yg pandai menari  & mungkin bisa mengembangkan potensinya di Institut Seni.

Sailing

We are sailing stormy waters,
to be near you, to be free.

(Sailing - Gavin Shuterland, 1972)

salah satu teman baik saya, mas Memed, akan meninggalkan masa lajangnya pada tanggal 24 Agustus nanti

semoga bisa membentuk keluarga sakinah
*dan semoga saya kali ini bisa hadir

Building a Perfect Beast

Banyak orang yang hidup dalam tekanan berusaha untuk keluar dengan cara mereka. ada yang dengan pertolongan orang lain, ada yang berusaha mengatasi sendiri tanpa bantuan,  sebagian ada yg tidak bisa menerima dan kemudian menyalahkan lingkungan di mana dia berada sebagai satu-satunya pihak yang bertanggung jawab atas segala tekanan yang menghimpitnya.

Golongan terakhir tadi yang saya anggap akan menjadi bencana di masa datang ( baik untuk dirinya sendiri dan yang lebih buruk  adalah untuk orang lain) bila tanpa ada campur tangan orang2 yang berkompeten untuk menyembuhkan ‘sakit’ mereka . Kecenderungan mereka  untuk merusak diri dengan mengkonsumsi obat penenang & alkohol, menghindari masyarakat, berhalusinasi ada pihak yang akan mencelakakan mereka dan mungkin yang paling parah adalah usaha bunuh diri (atau malah membunuh orang).

Namun ada pula yang justru merubah kepribadiannya dalam rangka membentuk pribadi unggul yang dia anggap dapat melawan segala kesewenangan yang menekan selama ini.  Beberapa memang benar-benar menunjukkan perubahan yang sangat drastis dari seorang biasa yang lemah menjadi orang yang penuh percaya diri dan mungkin bahkan kecenderungan menjadi jenius  . mereka bahkan mulai merubah nama (walau ada juga yg tidak) untuk menyesuaikan citra identitas yang baru  dan kemudian memproklamirkan diri menjadi Sang Pilihan. Kharisma mereka ini yang kemudian justru menarik orang-orang yang mendambakan sosok panutan (entah yg baik atau jahat sekalian) untuk memujanya dan setia sebagai pengikut. Hujatan dari kiri-kanan bukannya menyurutkan mereka namun saya kira justru memperkuat diri mereka. Sekaligus mereka jadikan bukti bahwa masyarakat  yang ada sekarang adalah orang-orang yang iri atau tidak sejalan dengan cita-cita mereka.  Saya pernah membaca beberapa aktivis politik yang pernah dipenjara malah selalu berterima kasih pada rezim yang memenjarakan. Soalnya semakin dikungkung spirit mereka semakin kuat.

Sayangnya orang semacam itu banyak terdapat di dunia ini. Orang-orang tadi bisa saja   tokoh politik/ agama yg kita kenal, bisa juga  semacam Marilyn Manson atau Varg Vikernes, bisa juga Joule Regenbogen, atau bahkan mungkin orang terdekat kita.

Burning Bridges

Banyak yg menyayangkan saat Dream Theater menolak sang drumer sekaligus pendiri, Mike Portnoy, untuk kembali bekerja di Dream Theater. Saya katakan bekerja karena kala sebuah band mulai berdiri dan bertekad untuk profesional maka band tadi bisa disamakan dengan perusahaan atau badan hukum. perusahaan rekaman akan mengikat kontrak dengan band, bukan dengan pribadi2 dalam band tadi. setelah itu perusahaan rekaman akan meminta ada manajer yang akan mewakili band bila berhubungan bisnis, anggota band akan "digaji"  dan lain sebagainya.

Portnoy seperti kita ketahui dulu adalah personil Dream Theater paling banyak terlibat proyek musik dengan artis lain. Reputasinya sbg drumer yang kompeten (begitu istilah Dave Grohl dari Foo Fighters) membuat orang selalu tertarik dengan proyek yg dia ikuti. Dia adalah pendiri Liquid Tension Experiment bersama  John Petrucci,Jordan Rudess dan bassis legendaris Tony Levin. Dia juga pendiri Transatlantic, sebuah progressive rock "super-group" bersama keyboardis/vocalis Spock's Beard: Neal Morse,gitaris Flower Kings: Roine Stolt dan bassis Marillon: Pete Trewavas. Portnoy juga kut rekaman, tampil live dengan Avenged Sevenfold, Neal Morse, OSI, Hail!, Stone Sour, Fates Warning, Overkill dan G3. belum lagi kegiatan Portnoy membuat tribute band untuk The Beatles, Led Zeppelin, Rush, dan The Who. belum lagi perannya menyenangkan para pengemar DT dengan merelis  banyak Official Bootlegs  di websitenya.

Dengan seabreg kegiatan luarnya, walau dia selalu menyatakan bahwa DT adalah prioritas utamanya, jelas membuat dia kehabisan tenaga & kreativitas sehingga membuat dia ingin istirahat sejenak dari DT. sayangnya Portnoy lupa bahwa di dunia bisnis rekaman semua orang bisa digantikan. dan itulah yang dilakukan para anggota DT lainnya, memberi pilihan utk tetap sesuai jadwal band atau keluar. Pada 8 September 2010 Portnoy mengumumkan pengunduran dirinya dari DT. belakangan Avenged Seven Folds yg diharapkan jadi wadah kreativitas barunya menghentikan kerjasama. pada akhir 2010 Portnoy mengajukan penawaran utk kembali ke DT dan lewat pengacaranya (ingat perusahaan tadi?) DT menolak Portnoy utk kembali.

Ada dua hal  saya dapatkan dari akhir yang menyedihkan atasi peristiwa hengkangnya Mike Portnoy dari Dream Theater:
1. Jangan membuat keputusan bisnis dengan didasari emosi
2. Bila kamu membakar jembatan hari ini, kamu pasti akan menyesal karena tidak bisa menyeberang  di kemudian hari.
seperti yang ditulis Dave Eleffson di bukunya Making Music Your Business.

11 Maret 2012

We will never quit cause we're Metallica

And the dirt still stains me
So wash me until I'm clean

selamat hari raya iedul fitri 14134 H mohon maaf lahir & batin

potongan lirik lagu Until it Sleeps paling sering saya pakai untuk prolog di ucapan Lebaran saya selama ini. jujur saja meski banyak fans Metallica membenci album Load (dan sekaligus Re-Load) namun nyatanya justru 2 album itu yg masih sering ingin saya putar lagu-lagunya dibanding St. Anger atau Death Magnetic yg dipuji krn kembali ke akar musik Metallica.

musik Metallica adalah pintu masuk aliran musik ekstrim kala itu (artinya tahun 1988) bagi saya. Maklum sebelumnya pilihan musik saya adalah lagu-lagu Queen. grup Hard Rock (atau saat ini mungkin dinamakan Hair Metal) sedang merajalela saat itu lewat Motley Crue, Quiet Riot, Van Halen, Poison dan Bon Jovi (saat itu lagu Never Say Goodbye sangat menyebalkan krn diputer di radio terus). Bagi saya lagu2 mereka sudah cukup keras walau tetap merdu untuk telinga saya :)

Bersyukurlah waktu itu kaset2 bajakan resmi harganya terjangkau dan bisa dicoba dulu tanpa perlu beli. Diantara kaset yang di pajang di etalase saya melihat kaset Metallica, saat itu yang paling sering terlihat cuma Kill 'em All dan Master of Puppets. melihat covernya yang "serem" tentu saja saya tak pernah ingin mencoba mendengarkan walau gratis. saya masih memilih mendengarkan Hellowen atau Manowar  :D

oh ya, saya baru benar-benar mendengarkan lagu Metallica pas teman sekelas saya di SMA membawa Master of Puppets ke sekolah. lagu pertama di kaset tadi, Battery, sukses membuat saya terlempar kembali ke masa SD di kala teman2 masa kecil saya menggebrak-gebrak meja untuk mengiringi lagu dangdut yang mereka nyanyikan.
Singkat kata paginya saya langsung mengembalikan kaset tadi ke teman saya tanpa ingin melanjutkan mendengarkan lagu-lagu lainnya.

lucunya setelah itu saya malah jadi mudah mendengarkan lagu-lagu yang lebih keras, Slayer contohnya. saya dapat kaset seken Reign in Blood (Team Record) dan merasa lagu Metallica masih kalah keras (walau cara nyanyi James masih lebih bagus). happy endingnya Metallica kemudian meluncurkan ... and Justice for All . Kenapa?  karena itu pertama kali saya mengalami sendiri peluncuran album yang benar-benar saya ingin dengarkan. Yah, memang saya saat itu masih minjam kaset punya teman, tapi itu menandai era baru musik aliran thrash metal dalam hidup saya.  sampai sekarang :)

Life out here is raw
But we will never stop
We will never quit
cause we're Metallica

13 Agustus 2013