kota tempat saya ngantor sekarang sebenarnya cukup sepi, hanya anehnya makanan
lumayan mahal di sana. berbeda di tempat domisili saya di Magetan yang
untuk makan Rp 2500 saja masih bisa. tadi sore habis magrib saat makan di sebuah warung tenda, pemiliknya bilang ke pembeli kalau pecel tanpa lauk aja tak boleh Rp
2000. ada seorang suruhan yg ternyata cuma dititipi Rp 40.000 utk 15 bungkus nasi
liwet jadi bengong. Sepertinya sang majikan tak pernah jajan ke alun2
sebelumnya, walau termasuk orang kaya krn pemilik warung kenal. saya
mmg pernah makan nasi liwet + jus jambu di situ juga Rp 8000, entah berapa
harga satuannya. Di sisi lain ada tuna wisama atau
pengamen di sekitar situ yg tetap juga bisa jajan, walau mungkin cuma
minum atau beli gorengan aja. artinya uang yg mereka cari dgn cepat menguap
begitu juga. Di sekitar alun2 ada juga fastfood ayam goreng yg
kadang-kadang juga penuh pembeli.
While the poor they eat from hand to mouth
The rich drinkin' from a golden cup
And it just makes me wonder
Why so many lose, and so few win
...
(Poison - Something to believe in)
di dekat alun2 ada sebuah
pasar, minggu lalu saya sempat melihat ibu tua yang jualan daun
jati di malam hari, yg entah bisa langsung laku atau tidak. mmg di sini bungkus daun jati msh banyak dipakai bahkan utk makan nasi pecel. cukup ironis di satu sisi ada anak2 muda
membuang uang dengan mudahnya utk beli jajanan & di sisi lain ada orang yang
berusaha untuk bisa dapat uang dari barang dagangan (yg mungkin cuma setara dgn ayam goreng beberapa potong).
While the poor they eat from hand to mouth
The rich drinkin' from a golden cup
And it just makes me wonder
Why so many lose, and so few win
...
(Poison - Something to believe in)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar