Rabu, 21 Agustus 2013

something to believe in

kota tempat saya ngantor sekarang sebenarnya cukup sepi, hanya anehnya makanan lumayan mahal di sana. berbeda di tempat domisili saya di Magetan yang untuk makan  Rp 2500 saja masih bisa. tadi sore habis magrib saat makan di sebuah warung tenda, pemiliknya bilang ke pembeli kalau pecel tanpa lauk aja tak boleh Rp 2000. ada seorang suruhan yg ternyata cuma dititipi Rp 40.000 utk 15 bungkus nasi liwet jadi bengong. Sepertinya sang majikan tak pernah jajan ke alun2 sebelumnya, walau termasuk orang kaya krn pemilik warung kenal. saya mmg pernah makan nasi liwet + jus jambu di situ juga Rp 8000, entah berapa harga satuannya. Di sisi lain ada  tuna wisama atau pengamen di sekitar situ yg tetap juga bisa jajan, walau mungkin cuma minum atau beli gorengan aja. artinya uang yg mereka cari dgn cepat menguap begitu juga. Di sekitar alun2 ada juga fastfood ayam goreng yg kadang-kadang juga penuh pembeli.

di dekat alun2 ada sebuah pasar, minggu lalu saya sempat melihat ibu tua yang jualan daun jati di malam hari, yg entah bisa langsung laku atau tidak. mmg di sini bungkus daun jati msh banyak dipakai bahkan utk makan nasi pecel. cukup ironis di satu sisi ada anak2 muda membuang uang dengan mudahnya utk  beli jajanan & di sisi lain ada orang yang berusaha untuk bisa dapat uang dari barang dagangan (yg mungkin cuma  setara dgn ayam goreng beberapa potong).

While the poor they eat from hand to mouth
The rich drinkin' from a golden cup
And it just makes me wonder
Why so many lose, and so few win
...
(Poison - Something to believe in)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar